You are here in this city, you are back again to the same old routines. Or maybe not? While I keep on eating instant noodles after midnight for 3 days in a row, your innocence kept on haunting me. There are only two options: know or having to not know at all. My mind falls in neither in those two. The butterfly in my stomach is no longer there since last Thursday. Your return apparently is not the answer to my questions. Yet, I am still somewhat insecure and fragile to some point, I will no longer run. I will just wait and see.
4.12.2014
1.23.2014
Berhenti sejenak untuk berkontemplasi
Perhaps I keep on faking it, saying "I'm fine" to everyone who asked the simple question of "how are you?". Perhaps I push myself too much, giving commitments to everything I thought I could manage. Perhaps my past ambitions have come back to me again, and letting me not in control of myself. Perhaps, and perhaps.
To many I have told lies, lies of me stating I am doing great. In fact, I am not. These past few months have been difficult, and many times I just feel that I am a failure. Several times I have been thinking to give up and just end everything, but the faces of several people keep haunting me. Those faces are the ones who keep me moving. Those faces are real and alive, they keep me alive. Those faces have not let me give up on myself and are the backbones to my dreams. They did not let me to simply give up, and I am very thankful for them. To have them as a part of my life is more than just a blessing.
Through my depression and other issues I had to deal and am dealing with, I have learned a lot. I still cannot say that I am fine for now, all I can say is that I am feeling better. I have not reached to the point where I have gained my focus back, but gradually, slowly but sure, I am moving forward.
Through my tears, insecurities and worries I began to understand the importance of appreciating every moment I have, every experience I have to go through and every person I have to deal with. Life is tough, but I must go on. I should no longer think to press the 'stop' button, instead I should press 'pause' and learn to be thankful for every single moment. I believe these past few months have helped me grow, not to be successful nor extraordinary, but to simply enjoy live life as it is.
To many I have told lies, lies of me stating I am doing great. In fact, I am not. These past few months have been difficult, and many times I just feel that I am a failure. Several times I have been thinking to give up and just end everything, but the faces of several people keep haunting me. Those faces are the ones who keep me moving. Those faces are real and alive, they keep me alive. Those faces have not let me give up on myself and are the backbones to my dreams. They did not let me to simply give up, and I am very thankful for them. To have them as a part of my life is more than just a blessing.
Through my depression and other issues I had to deal and am dealing with, I have learned a lot. I still cannot say that I am fine for now, all I can say is that I am feeling better. I have not reached to the point where I have gained my focus back, but gradually, slowly but sure, I am moving forward.
Through my tears, insecurities and worries I began to understand the importance of appreciating every moment I have, every experience I have to go through and every person I have to deal with. Life is tough, but I must go on. I should no longer think to press the 'stop' button, instead I should press 'pause' and learn to be thankful for every single moment. I believe these past few months have helped me grow, not to be successful nor extraordinary, but to simply enjoy live life as it is.
8.27.2013
Seminggu
Seminggu belakangan ini hari-hariku diisi dengan berada di ruangan yang kira-kira besarnya sedikit lebih besar dari kamar tidurku, membuka mulut sambil tersenyum, mentransfer dan berbagi ilmu pada anak-anak yang duduk di sekolah dasar. Sudah 6 hari aku menjadi guru.
Muridku ada 7 orang: A, A, D, D, D, I dan R, dan mulai besok I akan menjadi ketua kelas. Mengajar itu butuh latihan dan tidak semudah yang banyak orang kira. Dan aku berusaha semaksimal mungkin untukmembuat mereka belajar berpikir, tidak seperti beberapa guruku di sekolah k yang cukup kolot: hanya menyuruh kami untuk menghafal. Aku berusaha mengingat metode-metode mengajar guru-guru di sekolah np (m dan hs) dahulu.
Muridku ada 7 orang: A, A, D, D, D, I dan R, dan mulai besok I akan menjadi ketua kelas. Mengajar itu butuh latihan dan tidak semudah yang banyak orang kira. Dan aku berusaha semaksimal mungkin untukmembuat mereka belajar berpikir, tidak seperti beberapa guruku di sekolah k yang cukup kolot: hanya menyuruh kami untuk menghafal. Aku berusaha mengingat metode-metode mengajar guru-guru di sekolah np (m dan hs) dahulu.
1.14.2013
Mimpi
Mimpi. Sebuah kata yang terdiri dari lima huruf, tidak lebih. Namun dari lima huruf tersebut pengaruhnya bisa menjadi berjuta-juta kali lipat.
Aku masih ingat betul, mimpi-mimpiku dahulu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mulai dari keinginan untuk menjadi petenis terkenal karena melihat Serena Williams, ingin menjadi desainer ternama dan memiliki label sendiri, ingin menjadi menteri lingkungan karena kesal melihat orang-orang menghabis-habiskan kertas, ingin menjadi menteri pendidikan supaya dapat membuat peraturan pendidikan sendiri, hingga ingin menjadi seorang psikolog bagi anak-anak berkebutuhan khusus karena lelah melihat beberapa teman mengolok-olok seorang teman dengan Asperger. Bila dilihat kembali, semua itu mungkin memang tidak memiliki hubungan yang erat. Tetapi satu: aku menggantungkan mimpi-mipi itu setinggi mungkin dengan optimisme yang tinggi.
Mimpiku sekarang mungkin berbeda, berbeda dengan mimpiku ketika di sekolah dasar, berbeda dengan mimpiku ketika aku menuliskan esai untuk aplikasi program pertukaran pelajar yang kemudian membawaku ke Norwegia, dan mungkin juga sedikit banyak berbeda dengan apa yang kutulis pada aplikasi ke universitasku saat ini.
Beberapa mimpiku masa kecil telah kuraih, beberapa sedang kucoba untuk meraihnya, sebagian lainnya hanya kusimpan dalam dunia pikiranku sendiri, sedangkan sisanya hanya berhasil bertahan sesaat.
Aku sekarang mungkin telah menjadi seorang yang lebih realistis dibanding diriku sekian tahun yang lalu, tetapi dengan begitu tidak berarti bahwa motivasiku untuk meraih segala mimpi dan cita kemudian turun. Rintangan demi rintangan tentu akan datang, mungkin sementara akan menghambatku untuk meraih sekian mimpi dan cita, namun selanjutnya akan menjadi batu pijakan untuk kemudian meraih mimpi-mimpi itu. Perjalanan masih panjang, tetapi aku percaya akan selalu ada cahaya di akhir setiap terowongan.
Aku masih ingat betul, mimpi-mimpiku dahulu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mulai dari keinginan untuk menjadi petenis terkenal karena melihat Serena Williams, ingin menjadi desainer ternama dan memiliki label sendiri, ingin menjadi menteri lingkungan karena kesal melihat orang-orang menghabis-habiskan kertas, ingin menjadi menteri pendidikan supaya dapat membuat peraturan pendidikan sendiri, hingga ingin menjadi seorang psikolog bagi anak-anak berkebutuhan khusus karena lelah melihat beberapa teman mengolok-olok seorang teman dengan Asperger. Bila dilihat kembali, semua itu mungkin memang tidak memiliki hubungan yang erat. Tetapi satu: aku menggantungkan mimpi-mipi itu setinggi mungkin dengan optimisme yang tinggi.
Mimpiku sekarang mungkin berbeda, berbeda dengan mimpiku ketika di sekolah dasar, berbeda dengan mimpiku ketika aku menuliskan esai untuk aplikasi program pertukaran pelajar yang kemudian membawaku ke Norwegia, dan mungkin juga sedikit banyak berbeda dengan apa yang kutulis pada aplikasi ke universitasku saat ini.
Beberapa mimpiku masa kecil telah kuraih, beberapa sedang kucoba untuk meraihnya, sebagian lainnya hanya kusimpan dalam dunia pikiranku sendiri, sedangkan sisanya hanya berhasil bertahan sesaat.
Aku sekarang mungkin telah menjadi seorang yang lebih realistis dibanding diriku sekian tahun yang lalu, tetapi dengan begitu tidak berarti bahwa motivasiku untuk meraih segala mimpi dan cita kemudian turun. Rintangan demi rintangan tentu akan datang, mungkin sementara akan menghambatku untuk meraih sekian mimpi dan cita, namun selanjutnya akan menjadi batu pijakan untuk kemudian meraih mimpi-mimpi itu. Perjalanan masih panjang, tetapi aku percaya akan selalu ada cahaya di akhir setiap terowongan.
1.09.2013
Sepercik memori akhir tahun dua ribu dua belas
Aku baru saja sadar, bahwa sudah sekian lama aku tidak mempublikasikan goresan-goresan penaku di dunia maya. Setengah tahun.
Malam pergantian tahun baru kuhabiskan dalam dunia mimpi, aku harus tidur karena keesokkan harinya aku harus bangun pagi. Ya, bangun pagi untuk melayani keluarga-keluarga di negeri yang sedang kutinggali dan pasangan-pasangan negeri ginseng yang sedang jatuh cinta menghabiskan waktu liburan mereka di tempat penginapan dimana aku bekerja.
Beberapa jam sebelum aku tidur, rasa syukur akan tahun yang lalu kemudian muncul, meskipun aku pada akhirnya harus menghabiskan malam itu sendiri, di tengah kesunyian Yufuin, jauh dari orang-orang yang kusayangi. Namun aku tidak seharusnya mengeluh berkepanjangan, masih banyak pekerja-pekerja lain di belahan dunia lain yang telah bertahun-tahun tidak pulang, sekian lama mereka belum dapat menghabiskan momen-momen penting bersama keluarga dan orang-orang yang mereka sayangi. Jadi aku rasa aku tidak pantas untuk mengeluh.
Tahun dua ribu dua belas, tahun dimana beberapa orang dengan indahnya masuk ke dalam hidupku dan mengisi hari-hariku. Tahun dimana meskipun waktu yang kuhabiskan bersama keluarga hanya sebentar, namun sangat berharga. Tahun dimana aku bahwa resolusiku tahun depan hanyalah dua: menghabiskan sebanyak waktu bersama mereka yang kusayangi dan melakukan hal-hal yang kusenangi.
Hidup terlalu pendek, satu hal yang kutakuti adalah tidak memiliki waktu yang cukup banyak bersama orang-orang yang kusayangi.
7.23.2012
Pembuangan Filosofi Kolot I
Tulisan ini akan kuawali dengan 3 hal yang tidak memiliki kaitan yang erat:
Pertama. Panggil aku si penunda. Seharusnya sekarang aku telah menyelesaikan laporan kerja kelompok kelas bahasa Jepangku, namun baru sebaris kalimat yang terdiri dari karakter hiragana, katakana dan kanji yang telah kutulis.
Kedua. Sudah lebih dari 24 jam aku telah mengdeaktivasikan akun Facebookku, ternyata tidak sesulit yang kupikirkan sebelumnya. Dan untuk 6 - 9 hari kedepan aku akan bebas dari hal yang telah mengencaniku selama 5 tahun itu.
Ketiga. Belakangan ini aku merasa seakan kata-kata yang telah kutuangkan pada kertas-kertas evaluasi kelas mungkin terlalu menyakitkan dan frontal untuk takaran manusia Jepang. Mungkin aku salah, tetapi yang penting aku sudah berusaha untuk jujur.
.
Pertama. Panggil aku si penunda. Seharusnya sekarang aku telah menyelesaikan laporan kerja kelompok kelas bahasa Jepangku, namun baru sebaris kalimat yang terdiri dari karakter hiragana, katakana dan kanji yang telah kutulis.
Kedua. Sudah lebih dari 24 jam aku telah mengdeaktivasikan akun Facebookku, ternyata tidak sesulit yang kupikirkan sebelumnya. Dan untuk 6 - 9 hari kedepan aku akan bebas dari hal yang telah mengencaniku selama 5 tahun itu.
Ketiga. Belakangan ini aku merasa seakan kata-kata yang telah kutuangkan pada kertas-kertas evaluasi kelas mungkin terlalu menyakitkan dan frontal untuk takaran manusia Jepang. Mungkin aku salah, tetapi yang penting aku sudah berusaha untuk jujur.
.
Siapa?
Siapa yang akan pernah tahu kemana bumi akan membawamu
Siapa yang akan pernah tahu siapa bumi akan mengenalkanmu
Siapa yang akan pernah tahu kapan bumi akan menghantarkanmu pulang
Siapa?
Ditulis pada masa penundaan segalanya,
23 Juli 2012 - 10.55
7.12.2012
Alfabet C
Semua itu misteri
Ketika fajar datang, di tengah kegelapan
Ketika malam melintang, seseorang nampak
Dari kejauhan ia hanya tersenyum
Kala itu ramai, orang-orang sedang pulang menuju rumahnya masing-masing
Rasa itu pun begitu
Gelap dan misterius
Sebuah hal yang sulit untuk digambarkan
Satu kata saja tidak akan pernah cukup
Ditulis di kala hati sedang gundah,
12 Juli 2012 - 20.34
6.19.2012
Bagian kecil di pojok bawah laptop mengingatkanku bahwa sudah bukan tanggal 19 Juni lagi. Diriku belum tidur, tampaknya ancaman insomnia akan mengisi hari-hari ke depan. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk memutarbalikkan jam tidur.
Sekitar dua atau tiga minggu yang lalu kulihat bulan yang berubah menjadi agak oranye, kutanya pada seorang teman mengapa hal itu bisa terjadi. Namun ia hanya menjawabnya dengan sebuah guyonan singkat, bukannya menjawab pertanyaanku.
Bulan dua minggu yang lalu adalah bulan yang berbeda dengan bulan hari ini, begitu pula halnya dengan jam tidurku.
Di tulis di sebuah malam yang sunyi,
20 Juni 2012 - 01.32
6.14.2012
Terkadang...
Terkadang, ekspektasi dan kenyataan memang tidak selalu dapat bisa bertemu
Terkadang, manusia harus bekerja dengan manusia lain dengan visi yang berbeda
Bukanlah hal yang mudah
Tetapi terkadang, jalan keluarnya hanyalah satu: mau menerima dan belajar dari hal tersebut atau...tidak
Terkadang, manusia harus bekerja dengan manusia lain dengan visi yang berbeda
Bukanlah hal yang mudah
Tetapi terkadang, jalan keluarnya hanyalah satu: mau menerima dan belajar dari hal tersebut atau...tidak
14 Juni 2012, ketika harus belajar dari sebuah komunitas yang memiliki visi yang berbeda
4.21.2012
Some unconventional college/universities...
European College of Liberal Arts
Berlin, Germany
"Dedicated to the integrated study of values. A college without departments."
Quest University
Squamish, Canada
"Sample many realms of knowledge, and then build your own major."
Jacobs University
Bremen, Germany
"Combines excellence in the field with a strong emphasis on transdisciplinarity."
Berlin, Germany
"Dedicated to the integrated study of values. A college without departments."
Quest University
Squamish, Canada
"Sample many realms of knowledge, and then build your own major."
Jacobs University
Bremen, Germany
"Combines excellence in the field with a strong emphasis on transdisciplinarity."
1.25.2012
Hidup
Orang bilang hidup itu hanya sekali,
dan memang,
kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan mati,
tapi satu hal yang kita tahu kita bisa lakukan setiap
harinya:
bersyukur.
Bersyukur bahwa kita telah diberikan satu hari lagi,
untuk memaafkan,
untuk mencintai,
untuk memberi,
dan untuk hidup.
dan memang,
kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan mati,
tapi satu hal yang kita tahu kita bisa lakukan setiap
harinya:
bersyukur.
Bersyukur bahwa kita telah diberikan satu hari lagi,
untuk memaafkan,
untuk mencintai,
untuk memberi,
dan untuk hidup.
-A
Rabu,25 Januari 2012
Rabu,25 Januari 2012
15.30an
Ketika perasaan aneh tiba-tiba muncul
Ketika perasaan aneh tiba-tiba muncul
9.13.2011
Tulisan Lama
Hidup, kita selalu ingin untuknya tetap berada di puncak kebahagiaan.
Tetapi waktu terus berjalan mengitari roda yang tak pernah pasti.
Aku ingin berterima kasih kepada semua orang, yang telah mewarnai hidupku, segelap apapun itu warnanya.
Aku ingin berterima kasih kepada semua orang, yang telah mengisi hari-hariku, seburuk apapun hari itu.
Aku ingin berterima kasih terutama kepada Tuhan, yang telah memberikanku kehidupan ini.
23 Mei 2009 - Hari terakhir belajar di XIS1
9.06.2011
Setelah lima bulan berhibernasi
Hidup itu lebih dari sekedar memilih dari sekian juta pilihan hidup, tetapi bagaimana kita harus mengambil dan menerima konsekuensi dari setiap pilihan yang kita buat.
Sebuah hal yang tidak mungkin adalah untuk melupakan sebuah kenangan, betapa manis atau pahitnya kenangan itu pasti akan selalu ada dalam ingatan kita. Dan hal terbaik yang bisa kita perbuat dari itu adalah untuk merefleksikan kenangan tersebut sehingga bisa berbuah menjadi sebuah pelajaran.
Kutipan dari seseorang: kita tidak belajar dari pengalaman, tetapi kita belajar ketika kita merefleksikan pengalaman tersebut.
Terima kasih kehidupan.
Sebuah hal yang tidak mungkin adalah untuk melupakan sebuah kenangan, betapa manis atau pahitnya kenangan itu pasti akan selalu ada dalam ingatan kita. Dan hal terbaik yang bisa kita perbuat dari itu adalah untuk merefleksikan kenangan tersebut sehingga bisa berbuah menjadi sebuah pelajaran.
Kutipan dari seseorang: kita tidak belajar dari pengalaman, tetapi kita belajar ketika kita merefleksikan pengalaman tersebut.
Terima kasih kehidupan.
6.25.2011
Almaty, Reykjavik, Ulan Bator, oh you name it
It has been sometime, since I developed my curiosity toward some cities which may sound quite 'foreign' to some people, or maybe most people. So 'foreign' are those cities in people's ears, they don't even know which continent those cities belong. Well, that's the fun part I guess! Paris, for instance, millions of people have been there, millions have read or heard quite a lot of information about Paris. How romantic the city is, and how many people fell in love with the city itself. But what about Almaty, or Reykjavik (which actually is also located in Europe), or Ulan Bator? Most people probably just have heard a glimpse about them. And that is why I would love to travel to those cities, and be able to explore them in person, not just through looking at videos ;)
5.12.2011
Similar
I have no exact explanation yet, why are these songs similar. Nice tunes, though!
From Take That, Japanese band, Swedish artist to Danish band.
From Take That, Japanese band, Swedish artist to Danish band.
5.07.2011
11.27.2010
Antara Hidup dan Penyesalan
Hari ini terlintas ada sebuah penyesalan selama ini dalam diri saya. Sebuah penyesalan atas sebuah keputusan yang telah saya buat. Tetapi kemudian saya mencoba untuk berpikir lagi, buat apa menyesal? Toh, nasi sudah menjadi bubur. Daripada menyesali hal tersebut berkepanjangan, lebih baik menikmati bubur tersebut bukan? Buat apa hidup dipenuhi dengan segala penyesalan?
9.28.2010
Pendidikan Seks dan Istilah Heteroseksual
Hampir selama seluruh hidup saya, saya hidup dalam sebuah budaya yang masih menganggap bahwa seks itu tabu untuk dibicarakan. Meskipun di SD dan SMP saya sudah mendapat pendidikan seks, tetapi hal tersebut sayangnya tidak 'dilanjuti' di SMA saya. Namun saya beruntung memiliki keluarga yang cukup liberal untuk membicarakan mengenai pemahaman akan seks. Sehingga saya pun tidak perlu tanya teman ataupun melakukan hal-hal bodoh, hanya karena minimnya pemahaman akan seks.
Saya jadi teringat akan seorang teman saya, ketika itu kami duduk di kelas 6 SD. Karena rasa penasaran akan keingintahuan mengenai apa itu seks (pertanyaan yang sangat simpel bukan?), ia pun mencoba untuk menggoogle 'seks'. Tetapi bukan pada komputer rumahnya, melainkan komputer sekolah, lebih tepatnya komputer kelas kami. Dalam sebuah budaya yang merasa bahwa seks itu tabu untuk dibacarakan, jadilah kejadian tersebut sebuah masalah. Guru-guru saya pun 'menasehati'nya dan sedikit 'mencercanya', ia dianggap salah dan 'melanggar norma'. Padahal kalau ditinjau lagi, pertanyaan sesimpel "apa itu seks?" adalah sebuah hal yang sering dijumpai di kalangan anak-anak praremaja. Namun banyak pihak masih belum mengerti bagaimana memberi pendidikan seks pada anak, dan lebih lagi menjelaskan mengenai seks pada anak-anak yang masih lugu akan seks itu sendiri. Sehingga terjadilah kekeliruan pengertian akan seks, termasuk istilah-istilah seks (yang kemudian karena minimnya pemahaman banyak yang menggunakan istilah-istilah tersebut sebagai lelucon, padahal apabila mereka mengerti dengan jelas, mereka pun tidak akan menggangap hal-hal tersebut lucu. Hingga persepsi yang keliru mengenai apa yang dianggap porno).
Kejadian-kejadian seperti itu seyogianya perlu ditindaklanjuti secara menyeluruh, anak tidak dapat sepenuhnya disalahkan dan dihakimi begitu saja. Pihak-pihak lain seperti orang tua, sekolah dan guru pun harus menginstropeksi lebih lanjut lagi. Apakah pendidikan seks sudah dijalankan? Dan kalaupun sudah, apakah sudah berjalan dengan baik dimana anak-anak pun sudah mulai dapat memahaminya secara dewasa? Sehingga semua kekeliruan dan bias akan seks pun dapat dihindari, dan lebih dari itu semua anak-anak pun paham akan seks itu sendiri dan dapat melihatnya secara dewasa dan terbuka.
Karena kerap kali dijumpai, mereka-mereka yang minim pendidikan akan seks kemudian memiliki persepsi yang keliru. Mereka juga pada dasarnya bingung, bahwa mereka harus bertanya pada siapa? Terlebih apabila di sekolah tidak ada pendidikan seks, orang tua yang merasa tidak pantas untuk membicarakan mengenai seks pada anaknya, dan guru yang sering menghakimi dengan kata-kata seperti ini misalnya "dasar kamu pikirannya jorok mulu". Bagaimana anak tidak bingung? Kemudian anak pun harus bertanya pada siapa? Sementara teman-teman mereka tidak semuanya bisa menjelaskan secara 'dewasa'.
Salah satu kejadian yang membuat saya kemudian berpikir, betapa minimnya pendidikan seks di kalangan anak-anak dan remaja (terutama dalam komunitas sekolah), adalah ketika beberapa dari teman saya yang masih keliru akan istilah 'heteroseksual'. Padahal usia mereka sudah menginjak hampir 17 tahun, beberapa bahkan sudah 17 tahun (yang notabene di Indonesia sudah termasuk dalam kategori 'legal', punya KTP).
Diawali dengan pembicaraan mengenai pandangan kami akan homoseksual, yang kemudian membawa saya sehingga saya mengatakan bahwa saya adalah seorang yang heteroseksual.
"Loh? Heteroseksual? Hetero kan berarti banyak, berarti lo suka punya banyak pasangan dong?", ucap seorang teman saya yang berjenis kelamin laki-laki.
"Huh? Bukan, heteroseksual itu artinya tertarik pada lawan jenis..........", dan belum sempat saya jelaskan secara menyeluruh beberapa teman saya yang lainnya malah tertawa. Ya, mereka lebih percaya dengan definisi teman saya yang tadi, bahwa heteroseksual itu artinya kecenderungan memiliki banyak pasangan.
Sampai akhirnya saya pun sudah 'lelah' untuk berbicara.
Ya, istilah 'sesimpel' heteroseksual pun masih banyak yang suka keliru. Padahal bila dikaji ulang, mudah sekali untuk diartikan. Kata "heteros" dalam bahasa Yunani yang berarti beda, lawannya "homo" yang berarti sama. Pada intinya heteroseksual adalah orientasi seksual yang tertarik pada lawan jenis. Namun tetap saja ada yang masih keliru.
Akhirnya, sekali lagi harus ditekankan bahwa minimnya pemahaman akan seks dan istilah-istilah seks tidak dapat sepenuhnya dibebankan pada anak atau remaja semata. Masih banyak pihak yang sebenarnya turut ikut andil dalam pendidikan seks bagi mereka, mulai dari orangtua, keluarga, guru dan pihak sekolah hingga institusi ataupun komunitas yang berperan dalam 'membesarkan' dan mendidik anak dan remaja.
Langganan:
Postingan (Atom)

