Mimpi. Sebuah kata yang terdiri dari lima huruf, tidak lebih. Namun dari lima huruf tersebut pengaruhnya bisa menjadi berjuta-juta kali lipat.
Aku masih ingat betul, mimpi-mimpiku dahulu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mulai dari keinginan untuk menjadi petenis terkenal karena melihat Serena Williams, ingin menjadi desainer ternama dan memiliki label sendiri, ingin menjadi menteri lingkungan karena kesal melihat orang-orang menghabis-habiskan kertas, ingin menjadi menteri pendidikan supaya dapat membuat peraturan pendidikan sendiri, hingga ingin menjadi seorang psikolog bagi anak-anak berkebutuhan khusus karena lelah melihat beberapa teman mengolok-olok seorang teman dengan Asperger. Bila dilihat kembali, semua itu mungkin memang tidak memiliki hubungan yang erat. Tetapi satu: aku menggantungkan mimpi-mipi itu setinggi mungkin dengan optimisme yang tinggi.
Mimpiku sekarang mungkin berbeda, berbeda dengan mimpiku ketika di sekolah dasar, berbeda dengan mimpiku ketika aku menuliskan esai untuk aplikasi program pertukaran pelajar yang kemudian membawaku ke Norwegia, dan mungkin juga sedikit banyak berbeda dengan apa yang kutulis pada aplikasi ke universitasku saat ini.
Beberapa mimpiku masa kecil telah kuraih, beberapa sedang kucoba untuk meraihnya, sebagian lainnya hanya kusimpan dalam dunia pikiranku sendiri, sedangkan sisanya hanya berhasil bertahan sesaat.
Aku sekarang mungkin telah menjadi seorang yang lebih realistis dibanding diriku sekian tahun yang lalu, tetapi dengan begitu tidak berarti bahwa motivasiku untuk meraih segala mimpi dan cita kemudian turun. Rintangan demi rintangan tentu akan datang, mungkin sementara akan menghambatku untuk meraih sekian mimpi dan cita, namun selanjutnya akan menjadi batu pijakan untuk kemudian meraih mimpi-mimpi itu. Perjalanan masih panjang, tetapi aku percaya akan selalu ada cahaya di akhir setiap terowongan.
1.14.2013
1.09.2013
Sepercik memori akhir tahun dua ribu dua belas
Aku baru saja sadar, bahwa sudah sekian lama aku tidak mempublikasikan goresan-goresan penaku di dunia maya. Setengah tahun.
Malam pergantian tahun baru kuhabiskan dalam dunia mimpi, aku harus tidur karena keesokkan harinya aku harus bangun pagi. Ya, bangun pagi untuk melayani keluarga-keluarga di negeri yang sedang kutinggali dan pasangan-pasangan negeri ginseng yang sedang jatuh cinta menghabiskan waktu liburan mereka di tempat penginapan dimana aku bekerja.
Beberapa jam sebelum aku tidur, rasa syukur akan tahun yang lalu kemudian muncul, meskipun aku pada akhirnya harus menghabiskan malam itu sendiri, di tengah kesunyian Yufuin, jauh dari orang-orang yang kusayangi. Namun aku tidak seharusnya mengeluh berkepanjangan, masih banyak pekerja-pekerja lain di belahan dunia lain yang telah bertahun-tahun tidak pulang, sekian lama mereka belum dapat menghabiskan momen-momen penting bersama keluarga dan orang-orang yang mereka sayangi. Jadi aku rasa aku tidak pantas untuk mengeluh.
Tahun dua ribu dua belas, tahun dimana beberapa orang dengan indahnya masuk ke dalam hidupku dan mengisi hari-hariku. Tahun dimana meskipun waktu yang kuhabiskan bersama keluarga hanya sebentar, namun sangat berharga. Tahun dimana aku bahwa resolusiku tahun depan hanyalah dua: menghabiskan sebanyak waktu bersama mereka yang kusayangi dan melakukan hal-hal yang kusenangi.
Hidup terlalu pendek, satu hal yang kutakuti adalah tidak memiliki waktu yang cukup banyak bersama orang-orang yang kusayangi.
7.23.2012
Pembuangan Filosofi Kolot I
Tulisan ini akan kuawali dengan 3 hal yang tidak memiliki kaitan yang erat:
Pertama. Panggil aku si penunda. Seharusnya sekarang aku telah menyelesaikan laporan kerja kelompok kelas bahasa Jepangku, namun baru sebaris kalimat yang terdiri dari karakter hiragana, katakana dan kanji yang telah kutulis.
Kedua. Sudah lebih dari 24 jam aku telah mengdeaktivasikan akun Facebookku, ternyata tidak sesulit yang kupikirkan sebelumnya. Dan untuk 6 - 9 hari kedepan aku akan bebas dari hal yang telah mengencaniku selama 5 tahun itu.
Ketiga. Belakangan ini aku merasa seakan kata-kata yang telah kutuangkan pada kertas-kertas evaluasi kelas mungkin terlalu menyakitkan dan frontal untuk takaran manusia Jepang. Mungkin aku salah, tetapi yang penting aku sudah berusaha untuk jujur.
.
Pertama. Panggil aku si penunda. Seharusnya sekarang aku telah menyelesaikan laporan kerja kelompok kelas bahasa Jepangku, namun baru sebaris kalimat yang terdiri dari karakter hiragana, katakana dan kanji yang telah kutulis.
Kedua. Sudah lebih dari 24 jam aku telah mengdeaktivasikan akun Facebookku, ternyata tidak sesulit yang kupikirkan sebelumnya. Dan untuk 6 - 9 hari kedepan aku akan bebas dari hal yang telah mengencaniku selama 5 tahun itu.
Ketiga. Belakangan ini aku merasa seakan kata-kata yang telah kutuangkan pada kertas-kertas evaluasi kelas mungkin terlalu menyakitkan dan frontal untuk takaran manusia Jepang. Mungkin aku salah, tetapi yang penting aku sudah berusaha untuk jujur.
.
Siapa?
Siapa yang akan pernah tahu kemana bumi akan membawamu
Siapa yang akan pernah tahu siapa bumi akan mengenalkanmu
Siapa yang akan pernah tahu kapan bumi akan menghantarkanmu pulang
Siapa?
Ditulis pada masa penundaan segalanya,
23 Juli 2012 - 10.55
7.12.2012
Alfabet C
Semua itu misteri
Ketika fajar datang, di tengah kegelapan
Ketika malam melintang, seseorang nampak
Dari kejauhan ia hanya tersenyum
Kala itu ramai, orang-orang sedang pulang menuju rumahnya masing-masing
Rasa itu pun begitu
Gelap dan misterius
Sebuah hal yang sulit untuk digambarkan
Satu kata saja tidak akan pernah cukup
Ditulis di kala hati sedang gundah,
12 Juli 2012 - 20.34
6.19.2012
Bagian kecil di pojok bawah laptop mengingatkanku bahwa sudah bukan tanggal 19 Juni lagi. Diriku belum tidur, tampaknya ancaman insomnia akan mengisi hari-hari ke depan. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk memutarbalikkan jam tidur.
Sekitar dua atau tiga minggu yang lalu kulihat bulan yang berubah menjadi agak oranye, kutanya pada seorang teman mengapa hal itu bisa terjadi. Namun ia hanya menjawabnya dengan sebuah guyonan singkat, bukannya menjawab pertanyaanku.
Bulan dua minggu yang lalu adalah bulan yang berbeda dengan bulan hari ini, begitu pula halnya dengan jam tidurku.
Di tulis di sebuah malam yang sunyi,
20 Juni 2012 - 01.32
Langganan:
Postingan (Atom)
