6.10.2009
Baca-baca
Jembatan Tisu
Kota si Louis dan Katrina
mungkin bisa pula dilihat situs langsungnya disini
Sampai saat ini saya belum juga selesai membaca Larung, tetapi saya janji paling tidak pada akhir bulan saya akan menyelesaikannya. Untuk selanjutnya saya sudah tahu buku apa yang akan saya baca, yang pasti bukan buku sekolah hahaha.
6.09.2009
(Kalau baca sepenuhnya jangan sebagian)
Okay enough with 'those stuffs', harus saya akui bahwa tulisan-tulisan Budi Suwarna benar-benar menggugah, semestinya lebih banyak orang Indonesia khususnya, juga baca. Sayang, orang yang baca koran tambah sedikit setiap harinya. Terutama tulisannya tahun 2007 lalu mengenai pendidikan di Finlandia (judul artikelnya: "Belajar dari Sistem Pendidikan Finlandia" Kompas, 27 November 2007) sampai sekarang masih tertempel di dinding kamar saya. Cobaaa para petinggi di Depdiknas sana termasuk Bapak Bambang Sudibyo, SBY dan JK juga baca, saya rasa yang namanya UAN yang-sangat-tidak-penting itu tidak akan diadakan lagi. COBA SEMUA GURU-GURU DI SEKOLAH SAYA YANG TERCINTA ITU JUGA BACA ARTIKEL TERSEBUT, PASTI MEREKA AKAN MUNTAH NGOMONGIN YANG NAMANYA NILAI. SAYANG SEKARANG BELUM MUNTAH-MUNTAH JUGA. (Maaf kalau jadinya di capslock semua, saya pengen aja biar lebih terlihat, padahal yang dimaksud disitu juga belum tentu baca hahaha). Saya tahu saya seharusnya bersyukur sekali bahwa saya bisa mendapatkan pendidikan yang layak, sedangkan masih banyak anak-anak lain di dunia ini yang belum mendapatkan hal tersebut. Namun jangan juga jadikan hal tersebut sebagai alasan bahwa dunia pendidikan sekarang (di negara saya tercinta khususnya) seperti 'kondisinya' yang sekarang ini. Kalau semestinya pendidikan bisa menjadi lebih baik, mengapa tidak? *sigh*
Kemarin, hari Senin sekolah saya dengan SS* mengadakan tes kemampuan. And I really do think that it was very unneccessary, seakan-akan yang namanya pendidikan itu menjadi suatu hal yang komersil. Orangtua-orangtua berbondong-bondong memasukkan anak-anaknya ke 'tempat-tempat' (ya seperti SS* itu) supaya lulus UAN, masuk universitas favorit dan blablabla. Sementara mereka juga susah payah mencari nafkah, padahal nanti akhirnya uang yang diinvestasikan itu belum tentu sepenuhnya berdampak ke anaknya, melainkan lembaga-lembaga seperti SS* itu. Banyak pihak jadi 'korban' lembaga-lembaga yang 'mengkomersialisasikan' pendidikan, sedih saya melihatnya. Tetapi, coba kalau tidak ada yang namanya UAN dan kurikulum tidak hanya mementingkan nilai semata, maka 'lembaga-lembaga' tersebut akan 'mati dengan sendirinya' karena kliennya jadi nihil. Siapa juga yang butuh lembaga-lembaga seperti itu, kalau UAN tidak ada? Begini ya, saya katakan, daripada mendirikan lembaga-lembaga yang menurut saya nonsense itu, mendingan buat lembaga for those who have learning difficulties, itu jauuuuuuuh lebih bermanfaat! Semoga harapan saya bisa terkabul tahun 2012 (kenapa harus tahun 2012? karena saya rasa 3 tahun waktu yang cukup).
Saya rasa saya sudah cukup mengutarakan sebagian isi otak saya hari ini. Semoga siapapun yang membaca dapat membacanya dengan kacamata yang dewasa dan open minded. Saya sudah lelah dengan beberapa g***-g*** saya yang kurang open minded, anak-anak seperti saya jadi kurang terfasilitasi deh, abis yang g***-g*** suka hanya yang bisa diam dan tenang di kelas, dasar konvensionalis! Hahaha (jangan diambil hati ya para g***-g*** saya, tetapi coba dipikirkan kembali).
Oh ya sebuah hal yang buat saya sangat lucu terjadi seminggu sebelum ulangan umum. Ketika itu guru saya yang berinisial Y sedang 'bercerita' mengenai Revolusi Perancis, dengan coba-coba saya dan teman di depan saya melafalkan nama-nama tokoh Perancis di buku cetak. Lalu kemudian (mungkin dia iri kali ya dengan kami yang sedikit bisa melafalkan nama-nama itu) dengan ke-sok-tahuannya dia bilang "L'etat C'est Moi" seperti ini "ya jadi bacanya Letat Ces Moy". Padahal jelas-jelas yang namanya bahasa Perancis d,s,t,x di akhir kata itu tidak dibaca! Dan yang namanya MOI itu bacanya seperti MWA! Dasar beepy beepy banget deh, makanya lain kali kalau emang tidak tahu ya jangan sok tahu. Jadi jangan heran kalau di dalam hati, saya tertawa terpingkal-pingkal hingga wajah saya memerah. Bagaimana tidak?
Ok, saya rasa ini cukup untuk malam ini (sebenarnya sih belum).
God natt.
6.03.2009
Well..
5.19.2009
Are you one of them?

Akses terhadap situs jejaring sosial Friendster menurun, seiring dengan munculnya situs jejaring sosial Facebook.
Sekarang situs-situs seperti Plurk dan Twitter juga sedang 'mewabah'.
1. Indonesia
2. Filipina
3. Malaysia
4. Amerika Serikat
5. Singapura
2. Inggris
3. Italia
4. Indonesia
5. Perancis
1. Taiwan
2. Indonesia (dengan 30,000 pengakses setiap harinya)
3. Filipina
4. Amerika Serikat
5. China
Dan untuk situs Twitter, Indonesia 'baru' masuk di sembilan teratas:
1. Amerika Serikat
2. Inggris
3. Jepang
4. Kanada
5. Jerman
6. Australia
7. India
8. Brasil
9. Indonesia
Dan ingat peringkat ini akan terus meningkat, apabila Anda terus mengaksesnya setiap hari! Hehehe :D
Selain itu Yahoo! bahkan sempat meneliti mengenai perilaku kaum muda Indonesia mengenai internet. Dan hasilnya lama kelamaan kaum muda Indonesia cenderung lebih mengutamakan internet sebagai sumber untuk mencari informasi, dan mulai meninggalkan buku serta koran. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menjelek-jelekan akan penggunaan internet disini. Namun, di kasus ini kaum muda menjadi sangat tergantung pada internet, media yang lebih terpercaya kian dilupakan. Beberapa situs internet memang dapat dipercaya, namun yang membedakan dengan buku maupun koran adalah bahwa dalam informasi yang tercetak di buku maupun koran sudah berkali-kali dibaca ulang dan ditinjau lebih lanjut baik oleh editor maupun redaksi ataupun proof reader. Jadi kecenderungan akan kesalahan atau penulisan dengan pandangan-pandangan yang sempit pun lebih minim. Saya masih ingat betul, suatu ketika guru saya memberikan tugas kepada kelas saya untuk mencari informasi mengenai bencana Situ Gintung. Salah seorang dari teman saya yang saat itu internetnya sedang 'tidak benar' berkata pada saya, "drey, boleh tolong nitip cariin sama printin informasi Situ Gintung ga? Satu lembar aja. Internet gua lagi ga bener nih soalnya." Saya bukannya tidak mau membantu, tetapi apakah cari informasi HANYA dari internet? Tidak, kan? Permintaan teman saya tersebut menggambarkan betapa kaum muda Indonesia seakan tidak memiliki pilihan lain, apabila koneksi internetnya tidak dapat berjalan dengan baik (dengan tidak bermaksud mengeneralisir). Orang-orang seakan-akan menjadi lupa akan keberadaan hal lain seperti koran, misalnya. Ironis.
Semoga Kompas tidak akan hengkang dari bisnis media 20 tahun mendatang. Dan semoga orang-orang (Indonesia khususnya) bisa lebih memporsikan 'konsumsi'nya akan internet terutama, secara lebih bijak. Pada akhirnya semua itu baik adanya, asalkan dengan porsi yang 'pas' tidak lebih dan tidak kurang.
**Sumber data: Indonesia Matters "Online Time Wasters"
***Please don't take any of this personally. I hope you can understand that. Thank you.
~~~
My Green Thought of the day
Orang-orang terus berpikir bahwa daripada menggunakan kertas untuk mencetak dokumen-dokumen yang tidak seberapa penting, lebih baik mereka mengirimnya lewat email. Tetapi lama kelamaan saya jadi berpikir, mungkin cara tersebut memang menghemat kertas dan conserving the forest for sure. Tetapi bukankah dengan mengirim email, juga harus membuang sekian energi untuk komputer/any those messaging devices bisa bekerja? Itu di sisi lain menjadi tidak energy-saving. Sekarang saya jadi bingung, mana yang lebih baik.
My Green Feeling of the day
Saya kesal, karena 'tukang fotokopi' yang kemarin saya minta untuk memfotokopi setumpuk kertas malas memfotokopinya secara bolak-balik. Padahal saya sudah memintanya untuk please fotokopinya bolak-balik aja. Wasting paper! gggrrr :@ hahaha
5.10.2009
Dalam Tumpukan Kertas
Tentang Waktu
Hidup...
Ketika seorang datang ke dalam hidupmu
Membuat hatimu gembira hingga meleleh
Tetapi ada sesuatu yang membatasinya
Waktu...
Ketika batasan itu hendak menjemput
Yang tersisa hanyalah hitungan hari
Tetapi perasaan itu masih muncul
Hilang...
Ketika perasaan itu hilang perlahan
Seorang yang lain muncul
Ia bisa jadi orang baru, bisa pula lama
Aku...
Aku masih belum tahu
Karena waktu itu masih belum menjemputku
Mungkin sudah menjemputmu
Perasaan itu mulai hilang perlahan
Mengapa?
Karena sudah ada orang lain yang mengisimu
Dan aku kira kamu belum sadar akan hal itu
Tetapi...
Belum ada orang lain yang mengisiku
Aku hanya perlu bersabar
Dan menunggu waktu
Karena nantinya aku tahu
Bahwa waktu itu juga akan datang
Hanya belum tahu kapan pastinya
Waktu...
Aku masih bersabar
Kamu...
Karena waktu aku harus meninggalkanmu
Dan karena kamu aku harus meninggalkan
Waktu...
Aku tidak ingin mengulangnya lagi dan lagi
Aku hanya berharap yang terbaik untuk hidupmu
Dan juga hidupku
Salam cinta untuk A
5.08.2009
Survei Mengenai Seks
Berdasarkan survei oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2008,
