4.26.2009

McCandless

"So many people live within unhappy circumstances and yet will not take the initiative to change their situation because they are conditioned to a life of security, conformity, and conservatism, all of which may appear to give one peace of mind, but in reality nothing is more dangerous to the adventurous spirit within a man than a secure future. The very basic core of a man's living spirit is his passion for adventure. The joy of life comes from our encounters with new experiences, and hence there is no greater joy than to have an endlessly changing horizon, for each day to have a new and different sun."
— Chris McCandless

4.25.2009

Hal-hal pekan ini

Hari ini sudah bukan hari libur lagi. Sekolah sudah dimulai kembali, dan ya, pada hari Sabtu! Ditambah dengan dua ulangan, pertama ulangan akuntansi dan kedua ulangan matematika.

Dimulai dengan agak menyebalkan. Bayangkan seharian kemarin aku sudah belajar akuntansi dan matematika. Aku rasa aku sudah cukup siap untuk ulangan hari ini. Tetapi nyatanya aku belum juga bisa menyeimbangkan laporan neraca! Huhh, aku pun masih tetap penasaran, meskipun hampir semua anak kelas sudah pasrah dengan hasil mereka yang jelas-jelas tidak balance. Tetapi aku masih tetap berusaha untuk mendapatkan hasil yang seimbang. Lagipula waktu yang ada masih sekitar 20 menit. Jadi seharusnya aku masih punya banyak waktu untuk menyelesaikannya. Tetapi saat masih ada 15 menit waktu yang tersisa, ketika semua anak kelas telah selesai dan meninggalkan kelas. Si Ibu Akun malah bilang, "cepetan dong! Aduh Audrey kamuu ngerjainnya lamaaa banget sih..".
"Ya abis belum seimbang, Bu. Kan masih ada 15 menit lagi", jawabku.
Tidak kusangka tiba-tiba ia malah berjalan ke arahku dan 'main' langsung mengambil kertas ulanganku. "Huh, kamu lama banget ya ngerjain gitu aja".
Setelah ia mengambil kertas ulanganku ia kemudian langsung meninggalkan kelas begitu saja. Padahal jelas-jelas waktu masih 12 menit lagi untuk mengerjakan, tetapi ia tidak mau menunggu sedikit lagi untuk seorang muridnya berusaha. Grrrr... bagaimana tidak kesal?
Wong aku masih berupaya menyelesaikannya, mengapa karena mentang-mentang yang lain sudah selesai terus aku dibilang 'lama'? Heran!
Lagipula yang namanya ulangan, memang dinilai kecepatan mengerjakan soalnya? Tidak, kan? Kecuali kalau Si Ibu Akun itu adalah seorang guru Kumon, mungkin akan menjadi lain soal haaa.

Ya, ya, ya sedih sekali melihat fakta akan dunia pendidikan harus diisi dengan hal-hal seperti itu.

~

Thing I have noticed lately this week...
  • Mengapa orang-orang menjadi tambah anti-sosial dengan 2 gadget yang selalu menempel di kedua tangan mereka? Yaitu Blackberry dan Handphone Esia. Dan kedua barang tersebut selalu saja membuat mereka 'sibuk', padahal sebenarnya cuma masalah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Ironis.
  • Betapa menyedihkannya bahwa sekarang orang-orang lebih cenderung tertarik pada cara-cara sosialisasi yang tidak 'real' seperti Facebook. Aku terkadang lelah mendengarkan orang meminta-minta seperti ini: "kalau udah diupload, tagin yaa foto-foto guaa", dan anehnya lagi biasanya mereka mengucapkannya sambil tersenyum lebar. Seakan-akan bila orang yang disuruh sudah mentagnya, ia sedang hujan uang or something. Konyol.
  • Lama kelamaan orang yang tidak mengenalmu sekalipun bisa tahu dimana kamu berada detik ini, dengan bertambah banyaknya orang yang terlalu sering mengupdate the thing called 'status' di Facebook mereka (ya, lagi-lagi Facebook). Twitter juga sebenarnya tidak beda jauh. Dan pada akhirnya semua yang terlalu personal pun bisa dijadikan konsumsi khalayak banyak, dan privasi dianaktirikan (huaa, jangan sampai!).
  • Tetapi yang paling memuakkan adalah ketika, kami (terkadang termasuk saya--see I am not being a hypocrite hahaha. Aku cuman hal ini saja.) cenderung menghilangkan budaya eye contact untuk sesuatu yang bernama 'sms'. Huhhh.

Lama-lama kalau tidak mau berubah, teknologi benar-benar bisa menjadi budak kita. Dan jangan sampai kita kehilangan intuisi-intuisi yang kita miliki, hanya karena terdominasi oleh 'alat-alat-yang-sebenarnya-tidak-penting-itu'.

Sebetulnya, teknologi dan 'alat-alat canggih' itu baik. Tetapi apabila digunakan secara sewajarnya, tidak kurang dan tidak lebih. Semoga kalian tidak sampai dibudakkan oleh hal-hal tersebut!

4.14.2009

?

Sometimes I wonder, how some people tend to be so hard appreciating what have given to them. I know givers shouldn't expect to get something back when they give, but is it that hard just to say the word 'thank you'?
I don't expect anyone to do the same thing as I did either, but I just need some appreciation (and that is just as simple as saying thank you) to what I have did.
I find it somehow inpolite, when people do something good and give something somewhat is meaningful to you, and you say nothing.
How could you not appreciate what you've got?
Just as simply as saying thank you.
I seriously don't expect much from you, really. But I felt it's just so rude, getting no appreciation at all.
I don't want to make this a biggie.
But from what you've done, it just changed my mind about what I thought about you before.
Or maybe you're just not used being in the 'well-mannered' environment. I don't know.

Well, oh well, maybe I've had enough of all this, being in a world of people like you who are very seldomly say 'the magic words' and understand the importance of manner and being polite.
I don't want to sound harsh really, but it keeps friggin bothering me, and I don't like it.

So for those of you who felt you're somehow like 'that', please do try to say 'the magic words'!
And for those of you who DON'T EVEN KNOW WHAT ARE THE MAGIC WORDS ARE...
MAN, DON'T YOUR PARENTS EVEN TEACH YOU THAT? (sorry, no offence)

FYI: MAGIC WORDS ARE=
1. THANK YOU (when you say it, it means you are appreciating to what other people have done/given to you)
2. PLEASE
3. SORRY



Thank you

4.06.2009

"Bakrie No Longer A Billionaire" (dan cerita lainnya)

Itulah judul artikel dari Forbes.com, yang dimuat Desember 2008 lalu. Ya, keluarga Bakrie tak lagi menjadi keluarga bilioner. Karena perusahaan-perusahaan mereka sedang dalam tekanan untuk melunasi segala utang-utang yang dimiliki. Meskipun begitu, masih ada beberapa orang Indonesia yang masuk ke jajaran 701 bilioner dunia tahun 2009. Mereka adalah(dari urutan paling bawah)......

#701 Peter Sondakh
Net Worth: $1.0 bil
Pemilik Rajawali Group ini meliputi perusahaan Express Group (taksi), dan Semen Gresik.
Ia menjual Excelcomindo Pratama dengan harga lebih dari $400 mil di tahun 2007.

#522 Martua Sitorus
Net Worth: $1.4 bil
Co-founder Wilmar International.

#450 Sukanto Tanoto
Net Worth: $1.6 bil
Pemilik RGM International.

#430 R. Budi Hartono
Net Worth: $1.7 bil
Pewaris Djarum, aset meliputi Grand Indonesia dan Bank Central Asia (BCA).

#430 Michael Hartono
Net Worth: $1.7 bil
Pewaris Djarum, aset meliputi Grand Indonesia dan Bank Central Asia (BCA).


Hampir semua dari mereka dan juga bilioner-bilioner dunia lainnya, mengalami penurunan kekayaan tahun ini, dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Mengapa? Ya, you-know-why lah ;p

*FYI, meskipun Islandia (Iceland) adalah negara dengan HDI (Human Development Index) tertinggi di dunia, selama 2 tahun berturut-turut. Tetapi mereka hanya memiliki satu orang bilioner di negaranya yaitu Bjorgolfur Thor Bjorgolfsson. Sementara negara kita, Indonesia, dengan 5 orang bilioner menempati posisi ke 109 dalam list HDI 2008. Artinya, negara kita (tentunya) masih harus berusaha lagi untuk mencapai kemakmuran yang kurang-lebih merata di seantero negeri. Meskipun begitu ada satu hal yang patut dibanggakan, HDI Indonesia naik +0.007 dari tahun sebelumnya :-)