5.19.2009

Are you one of them?




(I think I'm probably one of them.. tsk tsk)


Masih ingat postingan saya mengenai how people are exaggerately enjoying virtual socializing lately? (kalau belum, klik disini). Dan ternyata, guess what? Hal tersebut memang benar-benar terjadi, semakin banyak orang (orang Indonesia maksudnya) menjadi online time wasters. Karena yang rata-rata mereka lakukan ketika mengakses internet adalah membuka situs-situs social networking, terutama Facebook dan Friendster. Dan yang sekarang juga semakin meningkat adalah situs-situs micro-blogging atau micro-messaging. I don't mean to say that those sites are non sense atau apalah. Tetapi yang menjadi masalah sekarang bagi para pengakases internet di Indonesia adalah, mereka menjadi konsumen situs-situs tersebut secara berlebihan dan pada akhirnya menjadi online time wasters. Tidak percaya? Ini buktinya.



Akses terhadap situs jejaring sosial Friendster menurun, seiring dengan munculnya situs jejaring sosial Facebook.

Sekarang situs-situs seperti Plurk dan Twitter juga sedang 'mewabah'.


Masih belum percaya juga?
(Berdasarkan data sejak 12 bulan terakhir)
Menurut Google Trends, orang Indonesia paling banyak memiliki account Friendster paling banyak:
1. Indonesia
2. Filipina
3. Malaysia
4. Amerika Serikat
5. Singapura
Sedangkan pada situs jejaring sosial Facebook, Indonesia 'masih' menempati posisi ke 4.:
1. Amerika Serikat
2. Inggris
3. Italia
4. Indonesia
5. Perancis
Untuk situs Plurk:
1. Taiwan
2. Indonesia (dengan 30,000 pengakses setiap harinya)
3. Filipina
4. Amerika Serikat
5. China
Dan untuk situs Twitter, Indonesia 'baru' masuk di sembilan teratas:
1. Amerika Serikat
2. Inggris
3. Jepang
4. Kanada
5. Jerman
6. Australia
7. India
8. Brasil
9. Indonesia

Dan ingat peringkat ini akan terus meningkat, apabila Anda terus mengaksesnya setiap hari! Hehehe :D


Selain itu Yahoo! bahkan sempat meneliti mengenai perilaku kaum muda Indonesia mengenai internet. Dan hasilnya lama kelamaan kaum muda Indonesia cenderung lebih mengutamakan internet sebagai sumber untuk mencari informasi, dan mulai meninggalkan buku serta koran. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menjelek-jelekan akan penggunaan internet disini. Namun, di kasus ini kaum muda menjadi sangat tergantung pada internet, media yang lebih terpercaya kian dilupakan. Beberapa situs internet memang dapat dipercaya, namun yang membedakan dengan buku maupun koran adalah bahwa dalam informasi yang tercetak di buku maupun koran sudah berkali-kali dibaca ulang dan ditinjau lebih lanjut baik oleh editor maupun redaksi ataupun proof reader. Jadi kecenderungan akan kesalahan atau penulisan dengan pandangan-pandangan yang sempit pun lebih minim. Saya masih ingat betul, suatu ketika guru saya memberikan tugas kepada kelas saya untuk mencari informasi mengenai bencana Situ Gintung. Salah seorang dari teman saya yang saat itu internetnya sedang 'tidak benar' berkata pada saya, "drey, boleh tolong nitip cariin sama printin informasi Situ Gintung ga? Satu lembar aja. Internet gua lagi ga bener nih soalnya." Saya bukannya tidak mau membantu, tetapi apakah cari informasi HANYA dari internet? Tidak, kan? Permintaan teman saya tersebut menggambarkan betapa kaum muda Indonesia seakan tidak memiliki pilihan lain, apabila koneksi internetnya tidak dapat berjalan dengan baik (dengan tidak bermaksud mengeneralisir). Orang-orang seakan-akan menjadi lupa akan keberadaan hal lain seperti koran, misalnya. Ironis.


Semoga Kompas tidak akan hengkang dari bisnis media 20 tahun mendatang. Dan semoga orang-orang (Indonesia khususnya) bisa lebih memporsikan 'konsumsi'nya akan internet terutama, secara lebih bijak. Pada akhirnya semua itu baik adanya, asalkan dengan porsi yang 'pas' tidak lebih dan tidak kurang.

**Sumber data: Indonesia Matters "Online Time Wasters"
***Please don't take any of this personally. I hope you can understand that. Thank you.


~~~

My Green Thought of the day
Orang-orang terus berpikir bahwa daripada menggunakan kertas untuk mencetak dokumen-dokumen yang tidak seberapa penting, lebih baik mereka mengirimnya lewat email. Tetapi lama kelamaan saya jadi berpikir, mungkin cara tersebut memang menghemat kertas dan conserving the forest for sure. Tetapi bukankah dengan mengirim email, juga harus membuang sekian energi untuk komputer/any those messaging devices bisa bekerja? Itu di sisi lain menjadi tidak energy-saving. Sekarang saya jadi bingung, mana yang lebih baik.

My Green Feeling of the day
Saya kesal, karena 'tukang fotokopi' yang kemarin saya minta untuk memfotokopi setumpuk kertas malas memfotokopinya secara bolak-balik. Padahal saya sudah memintanya untuk please fotokopinya bolak-balik aja. Wasting paper! gggrrr :@ hahaha

5.10.2009

Dalam Tumpukan Kertas

Sebuah tulisan yang kutemukan di tumpukan kertas di kamar. Aku masih belum tahu siapa yang menulisnya. Mungkin dirimu lebih tahu daripada aku.


Tentang Waktu
Hidup...
Ketika seorang datang ke dalam hidupmu
Membuat hatimu gembira hingga meleleh
Tetapi ada sesuatu yang membatasinya
Waktu...
Ketika batasan itu hendak menjemput
Yang tersisa hanyalah hitungan hari
Tetapi perasaan itu masih muncul
Hilang...
Ketika perasaan itu hilang perlahan
Seorang yang lain muncul
Ia bisa jadi orang baru, bisa pula lama
Aku...
Aku masih belum tahu
Karena waktu itu masih belum menjemputku
Mungkin sudah menjemputmu
Perasaan itu mulai hilang perlahan
Mengapa?
Karena sudah ada orang lain yang mengisimu
Dan aku kira kamu belum sadar akan hal itu
Tetapi...
Belum ada orang lain yang mengisiku
Aku hanya perlu bersabar
Dan menunggu waktu
Karena nantinya aku tahu
Bahwa waktu itu juga akan datang
Hanya belum tahu kapan pastinya
Waktu...
Aku masih bersabar
Kamu...
Karena waktu aku harus meninggalkanmu
Dan karena kamu aku harus meninggalkan
Waktu...
Aku tidak ingin mengulangnya lagi dan lagi
Aku hanya berharap yang terbaik untuk hidupmu
Dan juga hidupku

Salam cinta untuk A

5.08.2009

Survei Mengenai Seks

Tadi saya baru saja membaca sebuah artikel di Kompas yang berjudul "Kita Bisa Jaga Diri..." (Jumat, 8 Mei 2009). Di dalam artikel tersebut dimasukkan sebuah hasil survei. Setelah mengetahui hasil dari survei tersebut saya masih belum sepenuhnya yakin, tetapi well this is the result:

Berdasarkan survei oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2008,
63% remaja Indonesia pernah berhubungan seks.
Jujur saja saya cukup surprised dengan hasil tersebut, perkiraan saya adalah sekitar 40%, atau paling tidak tidak lebih dari 50%. Yang sekarang menjadi pertanyaan saya adalah, berapa rentang usia remaja yang dimaksud? Apakah usia 13-19, 12-21, 14-20, atau berapa (sampai detik ini saya masih bingung akan definisi usia remaja yang sebenarnya)? Dan yang kedua adalah apakah survei ini benar-benar dilakukan di seluruh provinsi atau hanya di beberapa kota-kota besar saja? Karena menurut saya, semua ini masih terlalu umum. Coba saja artikel itu dapat mengupasnya lebih dalam...

5.04.2009

Dreams

Oh my life is changing everydayin every possible wayAnd oh my dreamsit's never quite as it seemsNever quite as it seems I know I felt like this beforeBut now I'm feeling it even moreBecause it came from youThen I open up and seeThe person falling here is meA different way to be I want more, impossible to ignoreImpossible to ignoreAnd they'll come trueimpossible not to doImpossible not to do And now I tell you openlyYou have my heart so don't hurt meYou’re what I couldn't findA totally amazing mindSo understanding and so kindYou're everything to me Oh my life is changing everydayIn every possible wayAnd oh my dreamsit's never quite as it seems'cause you're a dream to meDream to me
--"Dreams", The Cranberries